Articles

Durasi Pemberian ASI Eksklusif, Lingkungan Fisik dan Kondisi Rumah Sebagai Faktor Risiko Pneumonia pada Balita di Puskesmas II Denpasar Selatan

Ni Kadek Ethi Yudiastuti , Anak Agung Sagung Sawitri, Dewa Nyoman Wirawan

Ni Kadek Ethi Yudiastuti
Udayana University. Email: ethiyudiastuti@yahoo.com

Anak Agung Sagung Sawitri
Udayana University

Dewa Nyoman Wirawan
Udayana University
Online First: December 01, 2015 | Cite this Article
Yudiastuti, N., Sawitri, A., Wirawan, D. 2015. Durasi Pemberian ASI Eksklusif, Lingkungan Fisik dan Kondisi Rumah Sebagai Faktor Risiko Pneumonia pada Balita di Puskesmas II Denpasar Selatan. Public Health and Preventive Medicine Archive 3(2): 92-98. DOI:10.15562/phpma.v3i2.98


Latar belakang dan tujuan: Pada tahun 2012 jumlah kasus pneumonia yang dilaporkan Puskesmas II Denpasar Selatan tertinggi nomor dua di Kota Denpasar yaitu sebesar 15,9%. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui durasi pemberian ASI eksklusif dan lingkungan fisik rumah sebagai faktor risiko pneumonia pada balita.

Metode: Desain penelitian adalah kasus kontrol. Kasus adalah 60 balita yang terdiagnosis pneumonia oleh dokter puskesmas, berumur 0-59 bulan dan tercatat di register balita sakit pada 1 Januari 2014 sampai 31 Maret 2015. Kontrol adalah 60 balita sehat yang berkunjung ke puskesmas saat penelitian berlangsung. Wawancara pada orang tua dilakukan menggunakan kuesioner. Observasi  dengan pedoman observasi dan pengukuran dengan hygrometer, luxmeter dan rollmeter dilakukan untuk lingkungan fisik rumah. Data dianalisis dengan Stata SE 12.1.

Hasil: Karakteristik ibu pada kasus dan kontrol dijumpai mirip dalam hal umur, pendidikan dan penghasilan; sedangkan untuk balita mirip dalam hal umur dan jenis kelamin. Faktor risiko yang terbukti meningkatkan kejadian pneumonia adalah durasi pemberian ASI eksklusif <dua bulan dengan OR=5,24 (95%CI: 1,96-14,01), pencahayaan alami dengan OR=2,72 (95%CI: 1,05-7,00) dan tingkat kepadatan hunian dengan OR=3,11 (95% CI: 1,18-8,19). Faktor lain yang juga berperan adalah tidak mendapatkan imunisasi Hib dan pneumokokus dengan OR=3,68 (95%CI: 1,11-12,17) dan frekuensi ISPA >1 kali dengan OR=10,14 (95%CI: 3,67-28,02).

Simpulan: Lama pemberian ASI eksklusif, pencahayaan alami dan kepadatan hunian rumah merupakan faktor risiko pneumonia pada balita.

References

Subanada, I.B. Pneumonia: Dari Pendekatan MTBS hingga Diagnosis Klinis. Disampaikan pada symposium yang diadakan Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Denpasar, 8 November, 2014.

Kementerian Kesehatan RI. Buletin Jendela Epidemiologi Pneumonia Balita. Buletin Jendela Epidemiologi 2010;3.

Dinkes. Profil Kesehatan Kota Denpasar Tahun 2012. Denpasar: Dinas Kesehatan Kota Denpasar; 2013.

Direktorat Jenderal PP dan PL Departemen Kesehatan RI. Pedoman Pemberantasan Penyakit ISPA Untuk Penanggulangan Pneumonia. Jakarta: Depkes RI; 2004.

Lamberti, L.M. dkk., Breastfeeding for reducing the risk of pneumonia morbidity and mortality in children under two: a systematic literature review and meta-analysis. BMC public health, 13 Suppl 3(Suppl 3), 2013 (cited 2015 August 30). Available from URL:http://www.pubmedcentral.nih.gov/ articlerender.fcgi?artid=3847465&tool= pmcentrez &rendertype=abstract.

Victora, C.G. dkk. Risk Factors for Pneumonia Among Children in a Brazilian Metropolitan Area. Pediatrics 1994; 93:977-985.

Sugihartono & Nurjazuli,. Analisis Faktor Risiko Kejadian Pneumonia Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Sidorejo Kota Pagar Alam. Kesehatan Lingkungan Indonesia 2012; 11(1):82-86.

Mokoginta, D., Arsin, A. & Sidik, D. Faktor Risiko Kejadian Pnemonia Pada Anak Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Sudiang Kota Makassar. Makassar; 2013.

Naim, K. Hubungan Pemberian ASI Ekslusif terhadap Kejadian pneumonia pada anak umur 4-24 bulan di Kabupaten Indramayu. Jakarta: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia; 2000.

Regina, R., Kun S, K. & Suharyo. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Pneumonia pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Miroto Semarang Tahun 2013. Semarang; 2013.

Annah, I., Nawi, N. & Ansar, J. Faktor Risiko Kejadian Pneumonia Anak Umur 6-59 Bulan di RSUD Salewangan Maros Tahun 2012:1-14.

Farmani, P.I. Hubungan Pencahayaan Alami terhadap Kejadian Pneumonia pada Bayi dan Anak Balita di Wilayah Kerja Puskesmas II Denpasar Selatan Tahun 2011. Denpasar: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana; 2011.

Sulistyowati, R. Hubungan Antara Rumah Tangga Sehat Dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita Di Kabupaten Trenggalek. 2010. Available from URL: http://digilib.uns.ac.id/pengguna.php?mn=detail&d_id=17189.

Yushananta, P. (2008).Analisis Pneumonia pada Balita Di Kota Bandar Lampung Tahun 2007. 2008. Available from URLhttp://jurnal.pdii.lipi.go.id/ admin/ jurnal/22084856.pdf

Yuwono, T.A. Faktor-faktor Lingkungan Fisik Rumah yang Berhubungan dengan Kejadian Pneumonia pada Anak Balita di wilayah Kerja Puskesmas Kawungan Kabupaten Cilacap; 2008.

Anwar, A. & Dharmayanti, I.,. Pneumonia pada Anak Balita di Indonesia. Kesehatan Masyarakat Nasional 2014; 8.

Sunyataningkamto, The Role of Indoor Air Pollution and Other Factors in the Incidence of Pneumonia in Under Five Children. Paediatrica Indonesiana 2004;44:1–2.

Sinaga, L. A., Suhartono.,& Yusniar, H. D. Analisis Kondisi Rumah Sebagai Faktor Risiko Kejadian Pneumonia Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Sentosa Baru Kota Medan Tahun 2008. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia 2009;8(1):26-34. Available from URLhttp:// jurnal.pdii.lipi. go.id/admin/jurnal/ 81092634.pdf

Zuraidah, S. Risiko Kejadian Pneumonia Pada Balita Kaitannya Dengan Tipe Rumah di Wilayah Kerja Puskesmas Sidorejo Lord dan Cebongan Kota Salatiga. 2002. Available from URL: http://eprints.undip.ac.id/14108/1/2002MIKM1404.pdf

Cesar, J.A.,dkk. Impact Of Breast Feeding On Admission For Pneumonia During Postneonatal Period in Brazil: Nested Case­ControlStudy. Papers. BMJ 1999:318.

Kementerian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI; 2010

Basuki, W. Faktor Ekstrinsik Lingkungan Rumah yang Berhubungan dengan Kejadian Pneumonia pada Balita di Wilayah Puskesmas I Banjarnegara Tahun 2004. 2004 (diakses 30 Agustus 2015). Available from URL: http://eprints.undip.ac.id/ 20832/1/2150.pdf

Radji, M. Buku Ajar Mikrobiologi Panduan Mahasiswa Farmasi dan Kedokteran. Jakarta: EGC; 2010.

Dinas Pekerjaan Umum. Pedoman Umum Rumah Sederhana Sehat. Jakarta: Departemen Pekerjaan Umum RI; 2006.

Yulianti, I., Djauhar, I. & Suharyanto, S., Faktor Risiko Kejadian Pneumonia pada Anak Balita di Kota Banjarmasin. Berita Kedokteran Masyarakat 2002;18:99-104.

Depkes RI. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1537.A/Menkes/ SK/XII/2002 TentangPedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut untuk Penanggulangan Pneumonia pada Balita. Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2002.

Yafanita, I.N. Faktor Risiko Status Gizi dan Status Imunisasi terhadap Kejadian Pneumonia pada Balita di RSUD DR. Soetomo Surabaya. 2012 (diakses 30 Agustus 2015).Avai;ab;e from URL: .http://alumni.unair.ac.id/detail.php?id=44657&faktas=Kedokteran.

Fanada, M., Muda, W. & Selatan, B.D.P.S. Pneumonia pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kenten Palembang Tahun 2012; 2012.

Hananto, M. Analisis Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kejadian Pneumonia pada Balita di 4 Propinsi di Indonesia (tesis). Jakarta: Universitas Indonesia; 2004.

Ellyana dan Candra. Hubungan Frekuensi ISPA dengan Status Gizi Balita. Journal of Nutritional and Health 2013;1(1).

Pavani, K.Ram., dkk.. Household Air Quality Risk Factors Associated with Childhood Pneumonia in Urban Dhaka, Bangladesh. Am. J. Trop. Med. Hyg., 2014;90(5):968-975.

Alves Cardoso, M.R., dkk.. Crowding: Risk Factor or Protective Factor for Lower Respiratory Disease in Young Children? BMC Public Health 2004;4(19). Available from URL: http://www.Biomedcentral .com/1471-2458/ 4/ 19.


No Supplementary Material available for this article.
Article Views      : 687
PDF Downloads : 303