Articles

Hambatan-hambatan Puskesmas Sebagai Satelit Antiretroviral Therapy (ART): Penelitian Kualitatif di Kabupaten Badung

Made Sugiana , I Nyoman Sutarsa, Dyah Pradnyaparamita Duarsa

Made Sugiana
Udayana University. Email: sugiana1975@gmail.com

I Nyoman Sutarsa
Udayana University

Dyah Pradnyaparamita Duarsa
Udayana University
Online First: July 01, 2015 | Cite this Article
Sugiana, M., Sutarsa, I., Duarsa, D. 2015. Hambatan-hambatan Puskesmas Sebagai Satelit Antiretroviral Therapy (ART): Penelitian Kualitatif di Kabupaten Badung. Public Health and Preventive Medicine Archive 3(1): 60-65. DOI:10.15562/phpma.v3i1.89


Latar belakang dan tujuan: Peningkatan jumlah kasus HIV+ berdampak pada peningkatan kebutuhan obat antiretroviral (ARV) dan akses layanan pengobatan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hambatan-hambatan puskesmas sebagai satelit ART di Kabupaten Badung.

Metode: Wawancara eksploratif dilakukan pada petugas CST RSUD Badung, puskesmas, organisasi sosial (LSM), pemegang kebijakan lokal, tokoh masyarakat dan pengguna layanan ARV (odha). Pengumpulan data dilakukan menggunakan wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah, dan  observasi langsung. Data dianalisis menggunakan pendekatan tema.

Hasil: Dijumpai adanya variasi hambatan internal masing-masing puskesmas di Kabupaten Badung sebagai satelit ART. Hambatan utama adalah sikap penolakan informan kesehatan terkait persepsi keterbatasan jumlah dan kompetensi tenaga, peningkatan beban kerja, serta belum adanya kebutuhan internal layanan puskesmas sebagai satelit ART. Hambatan lainnya bersumber dari kurangnya sarana dan prasarana laboratorium pendukung pra ART, ketiadaan petunjuk teknis dan manajemen pelaporan HIV/AIDS (SIHA) sebagai satelit ART, serta pembiayaan program HIV/AIDS yang masih dominan dari donor. Hambatan eksternal bersumber dari stigma dan diskriminasi HIV.

Simpulan: Hambatan integrasi layanan ART di puskesmas Kabupaten Badung berasal dari sistem struktural layanan internal puskesmas, stigma dan diskriminasi terhadap odha.

References

Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral Pada Orang Dewasa. Jakarta: 2011:1-2 .

WHO. Global Health Sector strategy on HIV/AIDS 2011-2015, Genewa-Switzerland; 2011. Available at: www.who.int.

UNAIDS. World AIDS Day 2014 Report. Genewa: UNAIDS; 2014. Available from: http://www. unaids.org/en/resources/campaigns/World-AIDS-Day-Report-2014.

Kementerian Kesehatan RI. Laporan Perkembangan HIV/AIDS Triwulan III. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta; 2014.

Zachariah R, Teck R, Buhendwa L, Fitzerland M, Labana S, Chinji C, et al. Community support is associated with better antiretroviral treatment outcomes in a resource-limited rural district in Malawi. 2007. [cited 2015 Jun 20]. Available from: http://trstmh.oxfordjournals.org/content/101/1/79.

Bassett IV and Walensky RP. Integrating HIV screening into routine health care in resource-limited settings. 2010. Available from: http://cid.oxfordjournals.org.

Eaton JW, Menzies NA, Stover J, Cambiano V, Chindelevitch L, Cori A, et al. Health benefits, costs, and cost-effectiveness of earlier eligibility for adult antiretroviral therapy and expanded treatment coverage: a combined analysis of 12 mathematical models. Lancet Global Health; 2014;2(1). Available from: http://www.ncbi. nlm.nih.gov/pubmed.

Kemeterian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan RI, Nomor 21 Tahun 2013 Tentang Penanggulangan HIV dan AIDS. Jakarta; 2013.

KPAN, WHO, UNAIDS. Odha dan Akses Pelayanan Kesehatan Dasar: Penelitian Partisipatif. Editor: Yatim D I. Jakarta; 2011.

Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambung- an. Jakarta; 2012.

Presiden RI. Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 72 Tahun 2012 Tentang Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta; 2012.

Mujiati, Jerico FP, Syaripuddin M. Evaluasi Pelaksanaan Layanan Perawatan, Dukungan dan Pengobatan (PDP) HIV/AIDS di Jawa Barat dan Papua. Jurnal Kesehatan Reproduksi. 2012: 2( 5). Available from: http://www.bpk.litbang.depkes. go.id.

Angkasawati, Widjiartini, Arifin A. Kesiapan Petugas Puskesmas Dalam Penanggulangan Infeksi Menular Seksual dan HIV / AIDS pada Pelayanan Antenatal. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. 2009; 12(17):403–408.

Stephani MT, Julien MC, Matimba, Evelin M, et al,. Integrating HIV Treatment with Primary Care Outpatient Service: opportunities and challenges from a scaled-up model in Zambia. Health Policy Plan.;2013;28(4):347–57. Available from: http://heapol.oxfordjournals.org.

Modiba P, Schneider H, Weiner R, Blaauw D, Gilson L, Zondi T, et al. The Integration of HIV / AIDS Care and Support into Primary Health Care in Gauteng Province. Center for Health Policy School of Public Health University of the Withwatersrand, Johannesburg; 2002.

Uebel K, Guise A, Georgeu D, Colvin C, Lewin S. Integrating HIV care into nurse-led primary health care services in South Africa: a synthesis of three linked qualitative studies; 2013. Available from: http://www.biomedcentral.com.

Mullen S. Assessment of Primary Health Care Facilities for Decentralization of HIV/AIDS Services in Nigeria. Negeria; 2012.

Parker R. and Aggleton P. HIV/AIDS-related Stigma and Discrimination : A Conceptual ramework and an Agenda for Action. Horizons Program; United State; 2002.

Eka SR, Syafar M, Natsir S. Hambatan Terhadap Perilaku Pencegahan HIV dan AIDS pada Pasangan Odha Serodiskordan di Kota Makasar. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanudin; Makasar; 2010.


No Supplementary Material available for this article.
Article Views      : 373
PDF Downloads : 129