Articles

Faktor Risiko Ibu dan Bayi Terhadap Kejadian Asfiksia Neonatorum di Bali: Penelitian Case Control

Ni Nyoman Ayuk Widiani , Desak Putu Yuli Kurniati, I Gusti Ayu Trisna Windiani

Ni Nyoman Ayuk Widiani
Universitas Udayana. Email: ayukwidiani@yahoo.co.id

Desak Putu Yuli Kurniati
Universitas Udayana

I Gusti Ayu Trisna Windiani
Universitas Udayana
Online First: December 01, 2016 | Cite this Article
Widiani, N., Kurniati, D., Windiani, I. 2016. Faktor Risiko Ibu dan Bayi Terhadap Kejadian Asfiksia Neonatorum di Bali: Penelitian Case Control. Public Health and Preventive Medicine Archive 4(2): 95-100. DOI:10.15562/phpma.v4i2.64


Latar belakang dan tujuan: Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 menunjukkan angka kematian neonatal (AKN) di Indonesia sebesar 19/1000 kelahiran hidup. Penyebab utamanya adalah gangguan pernapasan/asfiksia (35,9%), prematur, BBLR (32,4%) dan sepsis (12%). Kejadian asfiksia neonatorum 5 tahun terakhir di RSUP Sanglah Denpasar relatif stagnan yaitu: 2010 (8,6%), 2011 (9,3%), 2012 (11,6%), 2013 (8,3%) dan 2014 (11,3%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko ibu dan bayi terhadap kejadian asfiksia neonatorum.

Metode: Rancangan penelitian adalah kasus kontrol dengan sampel sebanyak 172 bayi yaitu 86 kasus dan 86 kontrol yang dipilih secara acak sederhana dari register kelahiran di RSUP Sanglah tahun 2015 dan dilakukan matching berdasarkan variabel usia kehamilan. Kasus adalah neonatus yang lahir dengan diagnosis asfiksia neonatorum (0-28 hari), sedangkan kelompok kontrol adalah neonatus yang tidak asfiksia. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat (chi square test) dan multivariat dengan regresi logistik.

Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko yang bermakna meningkatkan kejadian asfiksia neonatorum adalah: lilitan tali pusat dengan adjusted OR (AOR)=6,55 (95%CI: 2,34-18,33); anemia pada saat hamil dengan AOR=6,49 (95%CI: 2,21-19,03); partus lama dengan AOR=6,27 (95%CI: 1,37-28,70); BBLR dengan AOR=3,85 (95%CI: 1,61-9,18); umur ibu <20 tahun dan >35 tahun dengan AOR=3,57 (95%CI: 1,48-8,61) dan hipertensi pada saat hamil dengan AOR=2,40 (95%CI: 1,06-5,44).

Simpulan: Faktor ibu dan bayi yang berpengaruh terhadap kejadian asfiksia neonatorum yaitu lilitan tali pusat, anemia pada saat hamil, partus lama, BBLR, umur ibu <20 tahun dan >35 tahun, dan hipertensi pada saat hamil.

References

Depkes RI. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Depkes RI; 2009.

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia SDKI. 2007.

Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar tahun 2010. Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2011.

WHO. Millenium Development Goals: Progress Toward the Health-Related Millenium Development Goals; 2010.

Dinas Kesehatan Propinsi Bali. Profil Kesehatan Propinsi Bali tahun 2013. Denpasar. 2014.

RSUP Sanglah Denpasar. Laporan tahunan. Denpasar: RSUP Sanglah; 2015.

Mochtar R. Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi. Jakarta: EGC; 2011.

Herawati, R. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Terjadinya Asfiksia Neonatorum Pada Bayi Baru Lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Rokan Hulu. Jurnal Maternity and Neonatal; 2013; 1(2).

Sundari, T. Faktor faktor Risiko Terjadinya Asfiksia Neonatorum di RSD Jombang Periode 1 Januari 31-Desember 2007 (skripsi). Malang: Fakultas Kedokteran Muhammadiyah Malang; 2011.

Herianto, Sarumpaet, S. dan Rasmaliah. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya Asfiksia Neonatorum di Rumah Sakit Umum ST Elisabeth Medan. Medan: Program Sarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara; 2012.

Rofi’atun, MS. Hubungan Kadar Hemoglobin Ibu Hamil dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Skripsi Mahasiswa S1 Keperawatan FIK UMS.

Eka, AS. Hubungan Antara Partus Lama dan Kondisi Air Ketuban dengan Kejadian Asfiksia pada Bayi Baru Lahir di RSUD Kota Salatiga. Jurnal Kebidanan Adila Bandar Lampung; 2015; 7(2).

Dahriana, A. Faktor Risiko Kejadian Asfiksia Neonatorum di RSIA Siti Fatimah Makassar Tahun 2010 (skripsi). Makassar: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar; 2011.

Nayeri, et al. Perinatal Risk Factors forNeonatal Asphyxia in Vali-e-Asr Hospital Tehran-Iran. Iran J Reprod Med; 2012; 10(2): 137-140.

Revrelly. Hubungan Umur Ibu Dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum. [diakses 10 November 2015]; dari www.slideshare.net/4d1214n0/jurnal-2-8844280. 2011.

Martono. Risk Factors for Birth Asphyxia.Department of Child Health Faculty of Medicine. Surabaya: Airlangga University Dr Soetomo Hospital Surabaya; 2011.

Masyita, D. Hubungan Hipertensi dalam Kehamilan dengan Kejadian Asfiksia Bayi Baru Lahir di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Yogyakarta: Stikes Aisyiyah Yogyakarta; 2014.

Rahmah, T dkk. Risiko Faktor Persalinan dengan Kejadian Asfiksia NeonatorumRumah Sakit Umum Daerah Sawerigading Kota Palopo. Makassar: Bagian Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar; 2012.

Wiradharma dkk. Risiko Asfiksia padaKetuban Pecah Dini di RSUP Sanglah Denpasar. Bali: SMF/Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Udayana RSUP Sanglah, Denpasar. Sari Pediatri; 2013; 14(5).

Purnamawati, D. Konsumsi Jamu Ibu Hamil sebagai Faktor Risiko Asfiksia Bayi Baru Lahir. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional; 2012; 6(2).


No Supplementary Material available for this article.
Article Views      : 996
PDF Downloads : 263