Articles

Prevalensi infeksi taeniasis saginata pada konsumen lawar sapi di Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar tahun 2012

Oka Harimbawa , Anak Agung Sagung Sawitri, I Nyoman Adiputra

Oka Harimbawa
Udayana University. Email: ceker.oka@gmail.com

Anak Agung Sagung Sawitri
Udayana University

I Nyoman Adiputra
Udayana University
Online First: December 01, 2013 | Cite this Article
Harimbawa, O., Sawitri, A., Adiputra, I. 2013. Prevalensi infeksi taeniasis saginata pada konsumen lawar sapi di Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar tahun 2012. Public Health and Preventive Medicine Archive 1(2): 115-120.


Abstrak: Penelitian mengindikasikan bahwa taeniasis dan cysticocircosis endemis di Bali (prevalensi 0,4-23,0%) dengan kencenderungan meningkat dari tahun ke tahun. Penelitian sebelumnya di Kabupaten Gianyar menyatakan bahwa prevalensi taeniasis sebesar 23,8%, dimana prevalensi tertinggi ditemukan di Sukawati. Tingginya prevalensi ini dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dan budaya mengkonsumsi daging sapi mentah di kawasan ini. Penelitian ini menggunakan kombinasi antara metode kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif dikumpulkan melalui analisa cross-sectional pada 80 sampel dari konsumen daging sapi mentah (wawancara pada perilaku beresiko dan pengalaman sebelumnya). Sampel feses dari responden juga diambil dan diperiksa untuk mengetahui angka kejadian taeniasis saginata. Data kualitatif dikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam dengan pemilik warung daging sapi mentah. Ditemukan bahwa persentase infeksi taeniasis saginata sebagian besar pada kelompok umur 15-44 tahun, jenis kelamin laki-laki dan tidak mengenyam pendidikan formal. Dari analisa bivariat diperoleh bahwa faktor-faktor yang paling berpengaruh adalah jenis kelamin (p=0,018), lokasi warung (p=0,001), dan frekuensi dari konsumsi daging sapi mentah oleh responden (p=0,013). Analisa multivariat menggunakan cox regression dinemukan bahwa lokasi warung memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian taenisis saginata (p=0,003). Saran-saran yang bisa direkomendasikan termasuk pendidikan bagi pedagang daging sapi mentah, meningkatkan tes bagi konsumen dan penelitian lebih lanjut pada variabel-variabel lainnya seperti perilaku pemotongan ternak dan standar/prosedur pengolahan daging.

References

Sudomo. Penyakit parasitik yang kurang diperhatikan di Indonesia. Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Entomologi dan Moluska. Jakarta; 2008.

Simanjuntak dkk. Taeniasis/cysticercosis in Indonesia as an emerging disease. Jakarta: SubDit Zoonosis; 1997.

Depkes. Petunjuk penanggulangan taenia/cysticercosis di Indonesia edisi II. Jakarta: Sub Dit Zoonosis; 2004.

Subahar. Taenia solium infection in Irian Jaya. Jakarta: Trans R Soc Trop Med; 2001.

Wandra dkk. Taeniasis/cysticercosis in Papua, , Denpasar: Parasitol FKH UNUD; 2006.

Bappeda. Percepatan pembangunan sanitasi dasar di Kabupaten Gianyar. Gianyar: Bappeda; 2010.

Sutisna. Prevalensi taeniasis dan sisticercosis di Banjar Pamesan Desa Ketewel Gianyar Bali. Denpasar: Majalah Kedokteran Udayana; 2000.

Soeparno. Ilmu dan teknologi daging. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada; 2009.

Soulsby. Guidelines for surveillance, prevention and control of taeniasis/cysticecosis. Geneva: WHO; 1982.

Carrique et al. A pilot serological survey of human and porcine cysticercosis in Jayawijaya District. Transaction of the royal society of tropical medicine and hygiene; 2001.

Sanchez. Taeniasis solium. New Jersey: Food and Agriculture Department; 2003.

Sciutto et al. Differential diagnosis of taenia saginata and taenia solium infections. Trans R Soc Trap Med; 2000.


No Supplementary Material available for this article.
Article Views      : 184
PDF Downloads : 64