Articles

Sanitasi Rumah dan Status Gizi sebagai Faktor Risiko Kejadian Tuberkulosis Paru di Puskesmas Karang Taliwang, Mataram, Nusa Tenggara Barat

Lisa Sutiasih , Dewa Nyoman Wirawan, Anak Agung Sagung Sawitri

Lisa Sutiasih
Udayana University. Email: lisasutyasih@yahoo.co.id

Dewa Nyoman Wirawan
Udayana University

Anak Agung Sagung Sawitri
Udayana University
Online First: July 01, 2014 | Cite this Article
Sutiasih, L., Wirawan, D., Sawitri, A. 2014. Sanitasi Rumah dan Status Gizi sebagai Faktor Risiko Kejadian Tuberkulosis Paru di Puskesmas Karang Taliwang, Mataram, Nusa Tenggara Barat. Public Health and Preventive Medicine Archive 2(1): 52-58. DOI:10.15562/phpma.v2i1.123


Latar belakang dan tujuan: Tuberkulosis (TB) paru merupakan masalah di Kota Mataram khususnya di wilayah Puskesmas Karang Taliwang, dengan angka prevalensi tertinggi selama dua tahun berturut-turut yaitu 294 per 100.000 penduduk (2010) dan 173 per 100.000 penduduk (2011). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko kejadian penyakit TB paru di wilayah Puskesmas Karang Taliwang Kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Metode: Disain penelitian adalah case control, dengan 46 kasus dan 92 kontrol. Kasus adalah penderita yang dinyatakan TB paru oleh dokter puskesmas, dan kontrol adalah pasien rawat jalan yang tidak TB paru dan tidak sedang mengalami infeksi saluran pernafasan atas. Faktor risiko kejadian TB paru yang diteliti adalah sanitasi rumah, sosial ekonomi, status gizi,  paparan asap rokok, penyakit penyerta dan status imunisasi. Data dikumpulkan dengan wawancara, observasi, pengukuran dan tes HIV, dengan menggunakan kuesioner, roll meter, hygrometer, luxmeter, penimbangan berat badan dan mistar. Analisis data secara univariat, bivariat dan multivariat dengan Stata SE 12.1.

Hasil: Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa sanitasi rumah (ventilasi, kelembaban,  pencahayaan, suhu), sosial ekonomi, status gizi dan penyakit penyerta berperan dalam kejadian TB paru. Analisis multivariat menunjukkan faktor risiko yang berperan terhadap kejadian TB paru adalah ventilasi rumah dengan OR=2,87 (95%C: 1,01-8,20), kelembaban rumah dengan OR=3,91 (95%CI: 1,28-11,89), pencahayaan rumah dengan OR=4,46 (95%CI: 1,34-14,85), suhu rumah dengan OR=5,41 (95%CI:  1,90-15,39) dan status gizi dengan OR=6,74 (95%CI:  2,52-18,02). Kelima variabel tersebut berkontribusi bersama-sama sebesar 48,9% sebagai faktor risiko kejadian TB paru.

Simpulan: Variabel yang merupakan faktor risiko terhadap kejadian TB paru di wilayah kerja Puskesmas Karang Taliwang Kota Mataram adalah faktor sanitasi rumah dan status gizi

References

WHO. Global Tuberculosis Report 2012. World Health Organization 20 Avenue Appia, 1211–Geneva–27, Switzerland; 2012. [cited 2013 Februari 4] Available from URL: http:/www.who.int/-tuberkulosis.

Dinas Kesehatan Provinsi NTB. Laporan Evaluasi Kegiatan TB Paru Provinsi NTB. Mataram: Bidang P2 Dinas Kesehatan Provinsi NTB; 2010.

Dinas Kesehatan Kota Mataram. Profil Dinas Kesehatan Kota Mataram. Mataram: Dikes Kota Mataram; 2012.

Puskesmas Karang Taliwang. Profil Puskesmas Karang Taliwang Tahun 2012. Mataram: Puskesmas Kr. Taliwang; 2012.

Supari. Hubungan Faktor Fisik Rumah Terhadap Kejadian Tuberkulosis Paru di Wilayah Puskesmas Karang Jati Kecamatan Karang Jati Kabupaten Ngawi (tesis). Semarang: UNDIP; 2005.

Jelalu, T. Faktor-Faktor Risiko Kejadian Tubekulosis Paru Pada Orang Dewasa di Kabupaten Kupang (tesis). Yogyakarta: UGM; 2008.

Fatimah, S. Faktor Kesehatan Lingkungan Rumah Yang Berhubungan Dengan Kejadian Tuberkulosis Paru Di Kabupaten Cilacap (Kecamatan: Sidareja, Cipari, Kedungreja, Patimuan, Gandrungmangu, Bantarsari) Tahun 2008 (tesis). Semarang: UNDIP; 2008.

Kementrian Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan No. 829 Tahun 1999 Tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan. Jakarta: Kemenkes RI; 1999.

Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. Sosial dan Kependudukan. BPS; 2012. [cited 2013 April 29]. Available from URL: http://www. bps.go.id/ menutab.php? tabel=1&kat=1&idsubyek=23.

Supariasa. Pendidikan & Konsultasi Gizi. Jakarta: EGC; 2011.

Rusnoto; Pasihan, R.; Udino, A. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Tuberkulosis Paru Pada Usia Dewasa (Studi Kasus di Balai Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Paru Pati). Semarang: Universitas Diponogoro; 2005.

Ruswanto, B. 2010. Analisis Spasial Sebaran Kasus Tuberkulosis Paru Ditinjau dari Faktor Lingkungan Dalam dan Luar Rumah di Kabupaten Pekalongan (tesis). Semarang: UNDIP.

Priyadi, S. Analisa Beberapa Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian TB Paru BTA(+) di Kabupaten Wonosobo (tesis). Semarang: UNDIP; 2003.

Wijaya, A.A. Merokok dan Tuberkulosis. Jurnal Tuberkulosis Indonesia; 8. Jakarta: PPTI; 2012. [citied 2013 Februari22].

Aditama, T.Y. Rokok dan Tuberkulosis Paru. Jakarta: Bagian Pulmonologi dan Kedokteran Respiratori FKUI; 2003.

Coker, R.; Reader; McKee, M.; Atun, R.; Dimitrova, B.; Dodonova, E.; Kuznetsov, S.; Drobniewski, F. Risk factors for pulmonary tuberculosis in Russia: case-control study. BMJ. 2006:332:85. 2005. [citied 2013 Februari 4]. Available from URL: http://www.bmj.com/content/332/7533/85.

Jeon, C.Y; Murray, M.B. Diabetes Mellitus Increased The Risk Of Active Tuberculosis: A Systematic Review Of 13 Observasional Studies. 2008. [citied 2013 Februari 4]. Available from URL: http://www.plosmedicine.org/article/ info%3Adoi%2F10.1371%2Fjournal.pmed.0050152.

Soysal, A.; Millington, K.A.; Bakir, M.; Dosanjh, D.; Asla,n Y.; Deeks, J.J.; Efe, S.; Staveley, I.; Ewer, K.; Lalvani, A. Effect of BCG vaccination on risk of Mycobacterium tuberculosis infection in children with household tuberculosis contact: a prospective community-based study. Lancet 366(9495).


No Supplementary Material available for this article.
Article Views      : 350
PDF Downloads : 117